5000 Dulang Tersaji, Warga Tumpah Ruah Rayakan Ruwah Kubur Bak Lebaran

banner 120x600


SUNGAISELAN – Suasana meriah menyelimuti Desa Keretak dan Desa Keretak Atas, Kecamatan Sungaiselan, pada Sabtu (31/01/2026) pagi. Ribuan masyarakat dari berbagai penjuru tumpah ruah merayakan tradisi Ruwah Kubur, sebuah warisan budaya lokal yang rutin digelar setiap tanggal 12 Syakban dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan pembacaan Yasin dan Tahlil bersama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Keretak Atas. Masyarakat tampak khusyuk mendoakan sanak saudara serta leluhur yang telah berpulang. Kehadiran Wakil Bupati Bangka Tengah, Efrianda, menambah kekhidmatan acara tersebut.

Efrianda memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi masyarakat dalam menjaga adat istiadat ini.

Ruwah Kubur bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan wujud penghormatan mendalam bagi para leluhur. Momen ini menjadi pengingat bagi setiap individu bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan kematian adalah sebuah kepastian,” ucap Efrianda.

Ia juga menegaskan bahwa tradisi ini menjadi media silaturahmi yang sangat kuat antarwarga.

“Pak Kades, Pak Camat, nanti dikawal, jadi kegiatan Ruwah ini terus berjalan dengan baik. Kalau bisa ditingkatkan dengan berbagai kegiatan-kegiatan. Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, marilah kita jadikan momen Ruwah Kubur ini untuk membersihkan diri, mempererat tali persaudaraan, dan saling memaafkan,” kata Efrianda.

Sementara itu, Kepala Desa Keretak, Ahmad Nur Ihsan, bersama Kepala Desa Keretak Atas, Agustian menjelaskan bahwa persiapan acara ini telah dilakukan sejak satu bulan sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa sejak tahun 2010, Yasinan yang dulunya dilakukan secara mandiri kini dikemas bersama untuk mempererat silaturahmi. Selain itu, ada juga tabligh akbar di Masjid Al-Ihsan Desa Keretak yang menghadirkan penceramah kondang, Ahmad Bukhari Muslim.

“Ruwah kubur merupakan tradisi dan menjadi agenda tahunan, baik agenda dari Pemkab Bateng maupun Pemprov Babel. Jadi mudah-mudahan dengan suksesnya acara ini menjadi keberkahan bagi kami. Pada tahun ini, masyarakat Desa Keretak menyiapkan sekitar 5.000 dulang untuk menjamu para tamu. Dengan estimasi satu dulang dinikmati oleh dua orang, berarti ada ribuan warga yang memadati Masjid Al-Ihsan,” ungkap Ahmad Nur Ihsan.

Puncak acara ditandai dengan tradisi Nganggung, yaitu makan bersama menggunakan dulang yang ditutup tudung saji warna-warni. Setelah kegiatan di masjid usai, suasana desa berubah layaknya perayaan Idulfitri. Setiap rumah warga menyediakan hidangan lezat dan membuka pintu lebar bagi tamu dari luar daerah yang datang untuk bersilaturahmi. Antusiasme ini terlihat dari padatnya kendaraan yang membanjiri jalanan desa.

Salah satu warga setempat, Rahmat (65), dengan semangat mengajak masyarakat luas untuk tidak ragu berkunjung dan merasakan langsung kehangatan tradisi ini.

“Setiap 12 Syakban setiap tahun kami selalu merayakan Ruwah Kubur. Kalau ikak nek datang, datang saja, ajak kawan-kawan, rumah-rumah pasti nerima,” ajak Rahmat dengan ramah.

Tradisi Ruwah Kubur di Desa Keretak dan Keretak Atas kini bukan hanya milik warga setempat, melainkan telah menjadi daya tarik wisata religi dan budaya yang memperkaya khazanah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.* Sumber: Diskominfosta Bangka Tengah

Penulis: Deanty N.

Editor: Asti Pradiajayanti

Fotografer: Prayogi J.



Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *